<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Serba-serbi Aceh Singkil</title>
	<atom:link href="http://acehsingkil.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://acehsingkil.wordpress.com</link>
	<description>...from Us for Aceh Singkil</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Oct 2011 12:23:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='acehsingkil.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Serba-serbi Aceh Singkil</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://acehsingkil.wordpress.com/osd.xml" title="Serba-serbi Aceh Singkil" />
	<atom:link rel='hub' href='http://acehsingkil.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengenal Hamzah Fansuri Cat. I</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/08/14/mengenal-hamzah-fansuri-cat-i/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/08/14/mengenal-hamzah-fansuri-cat-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 05:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hamzah Fansuri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Hamzah Fansuri, Pemantik Peradaban Aceh Tak banyak sejarah yang menukil seorang maestro peradaban yang tidak hanya dikenal di timur tapi juga di Barat. Dia Hamzah Fansuri, ulama yang pujangga nusantara. Dalam karya-karyanya ditemukan kunci peradaban satu kaum (Aceh). Di Malaysia, sastra menjadi tumpuan kaki peradaban Melayu, sehingga pujangga ditempatkan di atas para intelektual. Jika kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=89&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/hamzah-fansuri2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-100" title="hamzah fansuri" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/hamzah-fansuri2.jpg?w=246&#038;h=184" alt="" width="246" height="184" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hamzah Fansuri, Pemantik Peradaban Aceh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak banyak sejarah yang menukil seorang maestro peradaban yang tidak hanya  dikenal di timur tapi juga di Barat. Dia Hamzah Fansuri, ulama yang  pujangga nusantara. Dalam karya-karyanya ditemukan kunci peradaban satu  kaum (Aceh). Di Malaysia, sastra menjadi tumpuan kaki peradaban Melayu,  sehingga pujangga ditempatkan di atas para intelektual. Jika kita simak  satu lagu Aceh yang sering dinyanyikan oleh Rafly (penyanyi/penyair Aceh), maka kita tidak akan bisa melupakan syair berikut.</p>
<p style="text-align:center;"><em>//Wahai muda kenali dirimu/ ialah, perahu tamsil tubuhmu</em><br />
<em> tiadalah berapa lama hidupmu/ ke akhirat jua kekal diammu</em><br />
<em> Hai muda arif budiman/ hasilkan kemudi dengan pedoman</em><br />
<em> alat perahumu jua kerjakan/ itulah jalan membetuli insane</em><br />
<em> Wujud Allah nama perahunya/ ilmu Allah akan kurungnya</em><br />
<em> iman Allah nama kemudinya/ yakin akan Allah nama pawangnya</em><br />
<em> Tuntuti ilmu jangan kepalang/ di dalam kubur terbaring seorang</em><br />
<em> Munkar wa Nakir ke sana datang/ menanyakan jikalau ada engkau sembahyang</em><br />
<em> Munkar wa Nakir bukan kepalang/ suaranya merdu bertambah garang</em><br />
<em> tongkatnya besar terlalu panjang/ cabuknya banyak tiada terbilang.</em><br />
<em> Kenal dirimu hai anak Adam/ tatkala di dunia terangnya alam</em><br />
<em> sekarang di kubur tempatmu kelam/ tiadalah berbeda siang dan malam//</em><br />
<strong>(Syair Perahu Hamzah Fansuri)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bait syair itu tak asing di telinga orang Aceh lewat lagu Rafli Kande.  Itulah syair karya pujangga besar Hamzah Fansuri; seorang ulama sufi  terkenal pada masa pemerintahan Sultan Iskanda Muda. Syair itu  menegaskan maqam spiritual sufistik seorang Hamzah Fansuri yang  dituangkan di dalam untain syair yang amat indah dan bernas.</p>
<p style="text-align:justify;">Harus diakui, walaupun di Aceh saat ini tidak satupun ahli mengenai  pemikiran Hamzah Fansuri, namun karya-karnya bukan hanya dikenang pada  zamannya tetapi terus menjadi bahan kajian para ilmuansampai saat ini.  Dalam sejarah peradaban Asia, nama  Hamzah Fansuri masuk ke dalam pemikir garda depan yang tidak hanya  berhasil di dalam dunia tasawwuf, tetapi juga di dalam dunia sastra.  Maka tak perlu kaget ketika Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya  “The  Mysticcism of Hamzah Fansuri” mengatakan  bahwa Hamzah Fansuri adalah  Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada  taranya pada zaman itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hamzah Fansuri adalah “Jalaluddin Rumi”-nya kepulauan Nusantara. Bahkan,  menurut Naguib, Hamzah Fansuri adalah pencipta bentuk pantun pertama  dalam bahasa Melayu. Sayang, syair Hamzah Fansuri tidak dimasukkan di  dalam dunia pendidikan Aceh, sehingga, sosok Hamzah Fansuri kemudian  “ditarik” pada akar budaya Melayu, bukan Aceh. Hal ini selain karena  generasi Aceh tidak paham akan persoalan akar budaya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di beberapa negara Muslim, sang pujangga selalu dikenal dengan  kewibawaan dan kebijaksanaan akan ilmu agama. Jalaluddin Rumi melalui  Mathnawi telah berhasil memberikan kontribusi terhadap bagaimana  tasawwuf bisa bersilaturrahmi dengan sastra. Lalu, Ikhwan al-Safa, juga  telah berhasil memberikan pemikiran tasawwuf yang sampai sekarang masih  dikaji dan diteliti. Ini bedanya dengan masyarakat Aceh, pemikiran ulama  tasawwuf  masih belum begitu penting. Belum lagi jika kita buka  bagaimana karya-karya Ibnu ‘Arabi yang nasihat-nasihat sufistiknya penuh  dengan ragam sastrawi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hamzah Fansuri, masih menurut Al-Attas, punya jasa besar dalam memajukan  bahasa Melayu. Pengaruhnya luar biasa di kalangan cendikiawan Melayu,  namun cukup sedikit kontribusinya dipelajari di Aceh. Bahasa Melayu  sebagai linguafranka yang dijadikan bahasa nasional Indonesia,  sebenarnya dipelopori pujangga Melayu seperti Hamzah Fansuri.  Setidaknya unsure serapan yang kini digunakan. Hal ini karena  pengetahuannya yang luas dalam bahasa Arab dan Persia.  Dengan sendirinya, ia pun membawa pula pembaharuan di bidang logika  atau ilmu mantiq. Lagi-lagi, setelah Naquib yang pernah menjadi Direktur  ISTAC di Malaysia, tidak ada lagi generasi Melayu yang berhasil  menemukan keaslian pemikiran Hamzah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dapat dikatakan dengan semangat pemikiran Hamzah lah, Naquib membangun  suatu pusat peradaban Islam di Malaysia yang sudah banyak sekali  alumninya, termasuk di Indonesia.  Menurut sejarah, pada masa Sulthan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil  1589 &#8211; 1604 M.), terdapat dua orang ulama keturunan Syekh Al Fansuri  mendirikan dua Pusat Pendidikan Islam di pantai barat Tanah Kerajaan  Aceh Darussalam, wilayah Singkil.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali Al Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan. Adapun  adiknya, Hamzah, mendirikan Dayah Oboh di Simpang Kiri Rundeng pada  tahun 1592 M. Syekh Ali H Fansuri dikurniai seorang putera dan diberi  nama Abdurrauf. Ulama inilah  yang kemudian menjadi seorang Ulama Besar  yaitu  Syekh Abdurrauf Alfansuri Asshingkili atau Teungku Syiahkuala  yang kuburannya terdapat di Kecamatan Syiah Kuala saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Teka-teki Hamzah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai  kelahiran Syeikh Hamzah Fansuri sampai sekarang masih merupakan  teka-teki. Demikian juga tahun kapan ia meninggal tak diketahui secara  pasti. Namun beliau menjadi ulama yang sangat berpengaruh  pada masa  pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Tuduhan Nuruddin Arraniri  bahwa Hamzah Fansuri telah menempuh jalan yang sesat (zindiq), ternyata  keliru. Dalam sajak-sajaknya sendiri Hamzah Fansuri malah mengecam para  sufi palsu atau pengikut-pengikutnya yang telah menyelewengkan ajaran  tasawuf yang sebenarnya. Kata Hamzah :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>//Segala muda dan sopan/ Segala tuan berhuban/ Uzlatnya berbulan-bulan/  Mencari Tuhan ke dalam hutan/ Segala menjadi “sufi”/ Segala menjadi  “shawqi” (=pencinta kepayang)/ Segala menjadi Ruhi (roh)/ Gusar dan  masam di atas bumi (menolak dunia)//</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana lazimnya “Penyair Sufi”, maka sajak-sajak Hamzah Fansuri  penuh dengan rindu-dendam; rindu kepada Mahbubnya, Kekasihnya,  Khaliqnya, Allah Yang Maha Esa. Karena itulah, maka “Karya Tulis” Hamzah  Fansuri sukar dimengerti dan dipahami oleh orang yang tidak banyak  membaca dan mendalami buah pikiran dan filsafat Ulama Tasauwuf/Penyair  Sufi. Mungkin termasuk Ar-raniry tak mampu menjangkau Hamzah. Inilah  kunci kenapa pemikiran tasawwuf sulit dipahami jika seseorang tidak  mengalami pengalaman spiritual.</p>
<p style="text-align:justify;">Karya Hamzah yang terkenal, antara lain pertama, Asraarul Arifiin Fi  Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid, yang membahas masalah-masalah ilmu tauhid  dan ilmu thariqat. Kedua, Syaraabul Asyiqin, yang membicarakan  masalah-masalah thariqat, syariat, haqiqat dan makrifat. Ketiga,  Al  Muntahi, yang membicarakan masalah-masalah tasauwuf. Keempat,  Rubah  Hamzah Fansuri, syair sufi yang penuh butir-butir  filsafat. Kelima,   Syair Burung Unggas, juga sajak sufi yang dalam maksudnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Hamzah Fansuri, bahwa manusia yang telah menjadi “Insan Kamil”  tidak ada lagi pembatas antara dia dan Mahbubnya. Ini pemikiran yang  juga pernah berkembang di dalam Islam yaitu Mansur al-Hallaj, Ibn  ‘Arabi, dan di Indonesia  juga pernah digulirkan oleh Syeikh Siti Jenar. Pada akhir pemerintahan  Sulthan Iskandar Muda Meukuta meninggal 27 Desember 1636 M. Syekh Hamzah  Fansuri tokoh agung nusantara, ulama sangat dikenal di Asia Tenggara  ini, walaupun di negerinya sendiri dilupakan, wafat di  Singkil, dekat  kota kecil Rundeng. Beliau dimakamkan di Kampung Oboh Simpang Kiri  Rundeng di Hulu Sungai Singkel Makamnya sangat dimuliakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah sepenggal seorang maestro peradaban, ulama Aceh pengawal rantau asia  yang telah menjadi milik dunia, namun tercecer dari catatan sejarah  bangsa ini akibat hegemoni politik dan fitnah. Masih banyak misteri  kehidupan Hamzah Fansuri yang belum terkuak, terutama kampong halamannya  dan bagaimana akhir kehidupannya. Padahal pengaruh pemikirannya sedikit  banyak telah mewarnai pemikiran keislaman di Nusantara. Akhirnya, saya  berharap semangat intelektual Hamzah Fansuri ini perlu dibangkitkan dan  dijadikan sebagai sebuah simbol kemegahan dunia Aceh. Karena Hamzah  bagaimanapun adalah seorang pujangga yang tidak ada tandingannya.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Catatan M Adli Abdullah)</p>
<p>Sumber : Serambi Indonesia</p>
<br />Posted in Hamzah Fansuri  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=89&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/08/14/mengenal-hamzah-fansuri-cat-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/hamzah-fansuri2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hamzah fansuri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkil Cat.7</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/07/16/sejarah-singkil-cat-7/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/07/16/sejarah-singkil-cat-7/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 03:29:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aceh singkil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Aceh merasa terusik jika Belanda melebarkan sayap kekuasaannya di Sumatera, khususnya di daerah-daerah yang menjadi daerah taklukan Aceh, seperi di Sumatera Timur dan Sepanjang Pantai Barat Sumatera hingga ke Padang. Untuk mehambat arus ekspansi Belanda di Sumatera, Kerajaan Aceh berusaha melemahkan armada dagang Belanda. Cara-cara yang ditempuh yaitu dengan membiarkan para bajak laut melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=147&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-7.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-158" title="gambar buku 7" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-7.jpg?w=240&#038;h=148" alt="" width="240" height="148" /></a>Kerajaan   Aceh merasa terusik jika Belanda melebarkan sayap kekuasaannya di   Sumatera, khususnya di daerah-daerah yang menjadi daerah taklukan Aceh,   seperi di Sumatera Timur dan Sepanjang Pantai Barat Sumatera hingga ke   Padang. Untuk mehambat arus ekspansi Belanda di Sumatera, Kerajaan Aceh   berusaha melemahkan armada dagang Belanda. Cara-cara yang ditempuh  yaitu  dengan membiarkan para bajak laut melakukan perompakan dan  perampasan  kapal-kapal dagang Belanda yang lalu-lalang di Selat Malaka  dan  peraiaran pantai barat Aceh. Di samping itu, Kerajaan Aceh juga   melakukan pengiriman armada perang dan Angkatan Lautnya yang dipimpin   oleh Sidi Vara ke Pulau Poncan. Kapal-kapal perang yang dipersenjatai   oleh Kerajaan Trumon tersebut diperintahkan untuk menyusup ke benteng   Belanda di Fort Tapanuli. Mereka ditugaskan untuk menghancurkan   persediaan senjata dan peralatan perang milik Belanda yang disimpan di   gudang-gudang amunisi di benteng Poncan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyerbuan   kapal-kapal perang Aceh tersebut, kemudian mengilhami Belanda untuk   menahan diri. Untuk mempertahankan diri dari Angkatan Laut Aceh, mereka   membangun daerah barrier (daerah penyangga) antara wilayah kerajaan   dengan wilayah kekuasaan Belanda. Selanjutnya untuk dapat mengembangkan   daerah jajahannya pada tahun 1839, Belanda menempatkan satu skwadron   kapal perang di Kerajaan Barus. Dan satu tahun kemudian (1840), Belanda   juga menempatkan beberapa kapal perangnya di Singkil. Di samping itu   melalui Residen Padang Mc Gillary, Belanda membuat perjanjian perdamaian   dengan Kerajaan Trumon.</p>
<p style="text-align:justify;">Tindakan   Belanda tersebut membuat Sultan Ibrahim Mansursyah dari Kerajaan Aceh   merasa dirugikan. Untuk menghadapinya, ia meminta bantuan pada Raja   Louis Phillipe dari Perancis agar dapat menghentikan tindakan Belanda   yang memperluas daerah kekuasaan di Pantai Barat Sumatera. Sebagai   tindak lanjut dari permintaan Sultan Aceh tersebut, pada tahun 1843   Pemerintah Perancis mengirim armada kapal perang La Fortune yang   dipimpin langsung oleh La Comte. Kedatangan kapal perang Perancis   tersebut hanya untuk melindungi Kesultanan Aceh dari tekanan Belanda.   Adapun kawasan Singkil dan daerah-daerah bekas wilayah kekuasaan Aceh   yang lain tetap dibiarkan sebagai daerah perdikan (daerah yang berdiri   sendiri).</p>
<p style="text-align:justify;">Kekuasaan  yang dilakukan VOC (Kompeni) Belanda di  daerah-daerah Singkil belum  dapat dinamakan penyelenggaraan pemerintahan  umum. Kekuasaannya  terutama terbatas pada penuntutan penyerahan wajib  dari  penguasa-penguasa daerah Singkil, mengangkat pegawai-pegawai ini  dan  itu serta mengawasi mereka dalam melakukan kewajiban-kewajibannya   terhadap VOC (kompeni) Belanda.<br />
Pengaruh kumpeni tidak terbatas pada  wilayah daratan Singkil saja,  tetapi juga menguasai wilayah lautan.  Kompeni Belanda juga menguasai  dan memonopoli seluruh hasil bumi yang  diproduksi di daerah Singkil.  Walaupun demikian, pengaruh kumpeni tidak  boleh dilebih-lebihkan.  Tradisi dagang penduduk Singkil tetap hidup,  walaupun ada monopoli  pelayaran dan perdagangan. Pengawasan di laut yang  teliti sekali untuk  melindungi monopoli kumpeni tak mungkin dilakukan,  karena adanya tempat  bersauh yang jumlahnya cukup banyak dan luas. Apa  yang disebut dengan  perdagangan gelap tetap berlangsung, terutama di  daerah-daerah yang  tidak terawasi. <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sumber: Sudirman dalam &#8220;Sejarah Maritim Singkil&#8221;</em></p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=147&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/07/16/sejarah-singkil-cat-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar buku 7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkil Cat.6</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/06/16/sejarah-s/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/06/16/sejarah-s/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 03:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aceh singkil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki abad XVIII, perdagangan di kawasan Asia Tenggara semakin ramai dikunjungi kapal-kapal dari Eropa dan Amerika. Hal tersebut juga berpengaruh di wilayah Singkil. Tidak hanya kapal-kapal dagang Belanda saja yang mengangkut hasil bumi dari singkil, tetapi juga datang kapal-kapal dagang dari Inggris dan Amerika. Hal ini menyebabkan rakyat Singkil tidak lagi loyall kepada Belanda yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=140&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-6.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-161" title="gambar buku 6" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-6.jpg?w=225&#038;h=225" alt="" width="225" height="225" /></a>Memasuki abad XVIII, perdagangan di kawasan Asia Tenggara semakin ramai  dikunjungi kapal-kapal dari Eropa dan Amerika. Hal tersebut juga  berpengaruh di wilayah Singkil. Tidak hanya kapal-kapal dagang Belanda  saja yang mengangkut hasil bumi dari singkil, tetapi juga datang  kapal-kapal dagang dari Inggris dan Amerika. Hal ini menyebabkan rakyat  Singkil tidak lagi loyall kepada Belanda yang telah memeras dan menindas  selama hampir tiga puluh tahun lamanya. Kehadiran kapal-kapal dagang  Inggris dan Amerika dianggap sebagai penyelamat perekonomian rakyat  singkil karena hasil-hasil bumi mereka dapat dijual bebas kepada mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih-lebih  setelah kedua negara (Amerika dan Inggris) tersebut menumbuhkan iklim  perdagangan bebas, maka keuntungan rakyat Singkil dalam penjualan hasil  bumi semakin meningkat. Hal ini sangat berbeda dengan Belanda yang  menerapkan sistem monopoli yang sangat merugikan rakyat. Kehadiran  kapal-kapal dagang dari kedua negara tersebut menyebabkan kedudukan  Belanda di Singkil terancam dan makin lama semakin terdesak.</p>
<p style="text-align:justify;">Perebutan  hasil bumi seperti kemenyan, kapur barus, lada, rotan dan hasil hutan  lainnya pada waktu itu menjadi semakin ramai, sehingga menimbulkan  persaingan yang ketat di antara para pedagang asing yang datang ke  daerah tersebut. Pusat-pusat perdagangan menjadi ajang perebutan. Pada  waktu itu, pelabuhan utama yang menampung hasil-hasil bumi dari daerah  Singkil terdapat di tiga tempat, yaitu : Pertama, di sebelah utara di  tarik garis sampai ke Barat Ujung Bawang, Kedua di sebelah timur dan  yang ketiga, di sebelah barat ke arah selatan dekat jalan Singkil yang  terletak depan benteng Singkil. Kapal-kapal dagang ukuran besar dapat  berlabuh di dermaga dengan kedalaman 5 – 10 vadem.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehadiran  pedagang-pedagang Inggris dan Amerika menyebabkan wilayah kekuasaan  Belanda menjadi semakin sempit dan akhirnya tersingkir dari Singkil.  Setelah itu maskapai perdagangan Inggris East Indian Company menjadi  semakin kuat kedudukannya di daerah Singkil. Namun di sisi lain,  kesultanan Aceh berusaha merebut kembali kekuasaannya yang telah hilang  di Singkil. Upaya itu dilakukan dengan cara menghasut penduduk Singkil  dan Bengkulu supaya menentang Inggris. Pada bulan Agustus 1771, Residen  Inggris yang bernama Gilles Holoway bersama Kapten Forrest berangkat ke  Aceh dengan kapal Luconia dengan maksud akan menemui Sultan Aceh untuk  membuka perdagangan di kawasan yang menjadi wilayah kekuasaan Aceh. Di  samping itu, Inggris juga meminta agar kesultanan Aceh tidak mengganggu  kegiatan perdagangan Inggris di kawasan Tapanuli. Namun usaha tersebut  dihalang-halangi oleh orang-orang India Madras yang tergabung dalam  Madras Syndicate Association.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya  rintangan dari orang-orang Madras tersebut, Inggris marah dan  memerintahkan kapal perangnya untuk menghukum mereka. Pengiriman kapal  perang tersebut dipimpin langsung oleh Sir Henry Botham. Setelah  orang-orang India Madras tersebut berhasil dihalau, armada perang  Inggris mulai mengincar daerah-daerah kekuasaan Belanda di sepanjang  pantai barat Sumatera. Setapak demi setapak kedudukan pos-pos Belanda di  pesisir barat pulau Sumatera direbut armada perang Inggris. Tindakan  itu dilakukan karena di Eropa sendiri sedang Inggris sedang berperang  dengan Perancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Belanda yang  telah dikuasai oleh Perancis dianggapnya sebagai musuh Inggris. Oleh  karena itu, kedudukan Belanda di Sumatera dan Jawa juga terancam oleh  serangan Inggris. Setelah negara-negara di Eropa berdamai pada tahun  1788, pos-pos Belanda yang dikuasai oleh Inggris diserahkan kembali  kepada Belanda.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1795 di Eropa terjadi Revolusi Perancis,  sehingga Inggris kembali memusuhi Belanda. Armada Perang Inggris yang  dipimpin oleh Edward Cooles menyerang lagi pos-pos Belanda di sepanjang  pantai Barat Sumatera. Mereka bertindak atas nama Pangeran Orange yang  berpihak kepada Inggris. Hal tersebut dilakukan supaya kekayaan Belanda  di Nusantara tidak jatuh ke tangan Perancis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tanggal 20 Juni  1801 Inggris mengangkat John Prince sebagai Residen baru untuk daerah  Tapanuli dan Singkil. Ia membeli lada sebanyak 300 ton setiap tahun yang  dikumpulkan dari Susoh dan Singkil. Untuk kelancaran pengapalan lada  tersebut, Inggris mengadakan perjanjian dengan raja-raja Tapanuli Tengah  pada tanggal 11 Maret 1815, yang diberi nama dengan Perjanjian Poncang  atau Batigo badunsanak.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya  Belanda tahu bahwa kedudukan Inggris di pesisir barat Sumatera tidak  begitu kuat. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk merebutnya  kembali. Dengan melipat gandakan armada perangnya Belanda kemudian  mengancam kedudukan Inggris di sepanjang pantai barat Sumatera, termasuk  juga di Singkil. Di samping itu, kehadiran armada Amerika di Sumatera  juga mengancam kedudukan Inggris. Untuk menjamin kepentingan dagang,  Inggris melakukan pendekatan keagamaan. Untuk itu pada tahun 1817,  diangkatlah Charles Halhead yang fasih berbahasa Arab sebagai Residen  Inggris yang baru di Tapanuli. Setelah 5 (lima) tahun memerintah sebagai  Residen, ia meninggal dunia karena sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya kegiatan  dagang di sepanjang pantai barat pulau Sumatera semakin hari semakin  ramai. Lebih-lebih setelah kapal-kapal dagang Perancis dan India juga  ikut meramaikan pelayaran dan perdagangan di kawasan tersebut. Walaupun  kapal-kapal asing dari berbagai negeri hilir mudik di di sepanjang  pesisir barat pulau Sumatera, tetapi para penguasa daerah Singkil lebih  memilih bangsa Amerika untuk menjual hasil buminya karena mereka  bersedia membeli dengan harga mahal. Pada suatu waktu, ada pedagang  Amerika yang melakukan penipuan. Hasil bumi yang telah diserahkan oleh  orang Singkil tidak dibayar. Rakyat marah dan menyita sebuah kapal  Amerika Frienship asal Salem dan membakarnya di Kuala Batu. Kejadian  tersebut kemudian ditanggapi oleh Presiden Amerika Serikat dengan  mengirim kapal perang Potomac pada tahun 1831. Daerah Kuala Batu  kemudian diserang dan dijadikan lautan api.</p>
<p style="text-align:justify;">Pascainsiden tersebut,  persaingan perdagangan di daerah Sumatera semakin ketat. Dari tahun ke  tahun jumlah armada dagang dari berbagai negara semakin meningkat.  Sejauh itu, hanya Inggris dan Belanda yang saling memperebutkan daerah  kekuasaan. Untuk menghindarkan peperangan, kedua negara tersebut  melakukan kesepakatan untuk menandatangani Traktat London. Adapun isi  dari traktat tersebut yaitu Inggris harus menyerahkan kekuasaannya di  daerah-daerah Belanda di Indonesia yang pernah direbutnya dahulu.  Sebagai imbalannya, Belanda harus menyerahkan seluruh Semenanjung Melayu  ke tangan Inggris.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjajinan  itu sangat memberatkan Inggris. Menurut anggapannya, daerah Singkil dan  Barus merupakan daerah miliknya yang telah diperolehnya sejak lama  dengan susah payah. Jadi logis kalau Inggris yang menduduki daerah  tersebut tidak rela jika harus menyerahkan begitu saja kepada Belanda.  Di sisi lain, penyerahan pulau Sumatera oleh Inggris kepada Belanda juga  sangat menyakitkan kesultanan Aceh. Mengingat Belanda selalu berusaha  menghilangkan pengaruh Aceh dan menguras kekayaan yang ada.<br />
Untuk  memperkuat kedudukannya di daerah-daerah yang terbentang dii sepanjang  pantai barat Sumatera, Belanda menempatkan wilayah Tapanuli termasuk  Singkil dan Barus ke dalam Residen Sumatera Barat yang berkedudukan di  Padang. Setelah VOC dinyatakan bangkrut dan dibubarkan pada tanggal 31  Desember 1799,  seluruh aset kekayaan VOC diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan  mulailah zaman baru penjajahan Belanda di Indonesia. Jika dulu dikuasai  oleh VOC, kemudian beralih ke tangan Pemerintah Kolonial Belanda.</p>
<p>Sumber: Sudirman dalam &#8220;Sejarah Maritim Singkil&#8221;</p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=140&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/06/16/sejarah-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar buku 6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkil Cat.5</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/05/16/sejarah-singkil-cat-5/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/05/16/sejarah-singkil-cat-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 02:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aceh singkil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Pada ababd XVII kekuasaan VOC makin kokoh dan keuntungannya semakin besar. Keuntungan yang besar ini diperoleh karena raja-raja di Indonesia akhirnya harus menyerahkan hasil-hasil tanaman dalam bentuk sumbangan paksa (verplichte leverantien). Di samping itu masih ada contingenten, upeti-upeti dalam bentuk barang dagangan tanpa pengganti dari VOC. Keserakahan dan nafsu mencari untung sebesar-besarnya yang dilakukan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=136&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-5.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-163" title="gambar buku 5" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-5.jpg?w=187&#038;h=270" alt="" width="187" height="270" /></a>Pada ababd XVII kekuasaan VOC makin kokoh dan keuntungannya semakin  besar. Keuntungan yang besar ini diperoleh karena raja-raja di Indonesia  akhirnya harus menyerahkan hasil-hasil tanaman dalam bentuk sumbangan  paksa (verplichte leverantien). Di samping itu masih ada contingenten,  upeti-upeti dalam bentuk barang dagangan tanpa pengganti dari VOC.</p>
<p style="text-align:justify;">Keserakahan  dan nafsu mencari untung sebesar-besarnya yang dilakukan oleh VOC  Belanda menimbulkan konflik dengan para penguasa daerah yang dirugikan.  Perlawanan-perlawanan pun akhirnya tidak dapat dihindari sehingga  terjadilah pertempuran, walaupun perlawanan-perlawanan itu akhirnya  dapat ditumpas.</p>
<p style="text-align:justify;">Belanda berusaha memperluas daerah pengaruh  kekuasaannya di pulau Sumatera. Kepala-kepala daerah diminta untuk  bekerja sama dengan Belanda dan hanya dibolehkan berdagang dengan  Belanda. Bagi para penguasa daerah yang menentang, akan ditundukkan  dengan kekerasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Belanda berhasil menguasai Bengkulu, Riau,  Padang dan sebagian Sumatera Utara, Belanda mulai melirik daerah  Singkil. Daerah Singkil yang memiliki hasil bumi yang melimpah, terutama  pala, lada, rotan, kemenyan, kapur barus dan hasil hutan lainnya harus  jatuh ke tangan VOC. Pada tahun 1670, VOC Belanda meminta Haji Lebei  Dapha menerima kehadiran kapal dagang Belanda. Mengingat Belanda hanya  ingin berdagang, penguasa Singkil tersebut dengan senang hati menerima  kehadirannya. Bahkan dijalin kerja sama perdagangan rempah-rempah dengan  Belanda. Semula keuntungan dagang yang diperoleh cukup besar karena  Belanda bersedia membeli rempah-rempah dari Singkil dengan harga mahal.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada  saat bersamaan dengan kehadiran Belanda, Haji Lebei Dapha sedang  berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Aceh. Hal ini  dilakukan karena upeti yang harus dibayarkan kepada Sultan Aceh dirasa  sangat memberatkan. Lebih dari itu, barang-barang produksi dari Singkil  harus dijual dengan harga yang telah ditetapkan kepada Sultan Aceh.  Karena Singkil merasa tidak bebas berdagang dengan bangsa lain,  menyebabkan kehadiran Belanda dianggap sebagai dewa penolong dan  menjalin hubungan kerjasama yang baik. Atas dasar inilah, akhirnya Haji  Lebei Dapha memberi hak istimewa kepada VOC Belanda, dengan harapan VOC  Belanda bersedia membantu Raja Singkil melepaskan diri dari kekuasaan  Sultan Aceh.</p>
<p style="text-align:justify;">Atas bantuan VOC Belanda, Raja Singkil berhasil  melepaskan diri dari kekuasaan Sultan Aceh. Sebagai upahnya, pada  tanggal 14 Maret 1672 VOC Belanda memaksa penguasa daerah tersebut untuk  menandatangani surat perjanjian yang sangat merugikan kerajaan Singkil.  Adapun isi perjajian bilateral tersebut di antaranya yaitu : (1).  Kerajaan Singkil harus setia sepenuhnya kepada Belanda; (2). Semua hasil  bumi harus dijual kepada asosiasi dagang Belanda atau VOC dengan harga  yang ditentukan oleh pihak Belanda. Ternyata Belanda sangat licik dan  penipu. Bantuan yang diminta untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sultan  Aceh justru jadi bumerang yang menyebabkan Singkil akhirnya jatuh ke  tangan Belanda. Sebagai raja kecil, ia tidak ada pilihan lain selain  harus menerima persyaratan yang disodorkan pihak Belanda. Perjajian  bilateral yang dibuat pada tanggal 14 Maret 1672 dengan berat hati  terpasksa ditandatangani oleh Haji Lebei Dapha.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun dengan  terpaksa Haji Lebei Dapha menerima keinginan Belanda, tetapi ada juga  tokoh-tokoh masyarakat Singkil yang menentangnya. Salah satu di  antaranya yaitu seorang penghulu Singkil yang bernama Raja Lela Setia  dengan keras menentang perjanjia yang sangat merugikan tersebut. Ia  menyatakan akan tetap setia kepada kesultanan Aceh dan anti terhadap  belanda. Oleh karena itu, ia berusaha menjual hasil rempah-rempah  Singkil ke daerah lain. Pembangkakang itu membuat Belanda berang dan  mengancam akan menghukumnya. Raja Lela Setia tidak takut ultimatum  Belanda tersebut. Akhirnya Belanda mengirim satu kompi pasukan perang ke  Singkil untuk menangkap Raja Lela Setia dan para pengikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum  tentara Belanda datang, Raja Lela Setia melarikan diri sehingga  penangkapan atas diri dan pengikutnya tidak berhasil. Belanda kemudian  memaksa penghulu Singkil lainnya untuk membantu menangkapnya. Namun  usaha ini juga tidak berhasil. Untuk memantapkan kekuasaannya di  Singkil, Belanda kemudian memperbaharui perjanjian yang telah dibuatnya  dahulu dengan perjanjian baru yang isinya : (1). Seluruh hasil bumi  Singkil harus diserahkan kepada Belanda dengan harga yang sangat rendah;  (2). Para penghulu Singkil diwajibkan untuk mengusir Raja Lela Setia  apabila kembali ke Singkil.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tanggal 12 Februari 1681, Belanda  menyodorkan surat perjanjian baru kepada para penguasa daerah di  Singkil. Pihak Belanda diwakili oleh Jan Vaan Leene dan Aren Silvius.  Sedangkan raja-raja Singkil yang dipaksa menandatangani perjanjian baru  tersebut di antaranya yaitu : Raja Indra Mulia (penguasa wilayah kanan  sungai), Mashoera Diraja (penguasa wilayah kiri sungai), Raja Setia  Bakti, Penghulu Siking Tousian, Penghulu Banti Panjang Tonsidin,  Penghulu Batu-Batu, Penghulu Perbentjein, Penghulu Kota Baru, Pang  Hitam. Adapun yang menjadi saksi perjanjian tersebut adalah utusan dari  Kerajaan Barus<a name="_ftnref8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn8"></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pascapenandatanganan  perjanjian tersebut, menyebabkan kedudukan Raja Lela Setia digantikan  oleh Masoera Diraja. Pada masa pemerintahan Raja Pedytam, perjanjian  tersebut dirasa sangat menyakitkan dan merugikan pihak Singkil. Rakyat  menjadi sangat menderita karena hasil panennya hanya dibeli dengan harga  murah sehingga tidak dapat untuk menutup kebutuhan hidupnya. Raja Pytam  ingin menolong penderitaan rakyatnya, namun beliau tidak berani melawan  secara terang-terangan. Ia hanya dapat menyuruh Minuasa memimpin  sekelompok orang kepercayaan untuk menyembunyikan hasil bumi dan  menjualnya ke pelabuhan lain melalui penyelundupan atau perdagangan  gelap. Semula penyelundupan ini aman-aman saja sehingga dapat sedikit  membantu mendongkrak perekonomian rakyat. Namun lama-kelamaan usaha  perdagangan gelap tersebut dapat diketahui Belanda. Pihak Belanda marah  dan menyiapkan satu kompi pasukan untuk menyergap kawanan penyelundup  tersebut. Karena tidak menyangka akan adanya serangan dadakan, maka  banyak anak buah Minuasa yang berhasil ditangkap tentara Belanda.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah  kejadian itu, Belanda melakukan pembaharuan perjanjian lagi. Pada  tanggal 8 Juni 1707 Belanda memaksa wakil dari penguasa Singkil untuk  menandatangani perjanjian tersebut. Adapun isinya merupakan  penyempurnaan isi perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, ditambah  dengan pernyataan bahwa penguasa Singkil yang tunduk pada Belanda harus  mencari dan menangkap orang-orang yang anti Belanda.<a name="_ftnref9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn9"></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a name="_ftnref9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn9"></a><br />
Tindakan  Belanda yang merugikan masyarakat Singkil tersebut menyebabkan rakyat  menderita. Hal tersebut akhirnya diketahui pula oleh Inggris. Oleh  karena itulah dengan kedok ingin menolong rakyat Singkil dari kekejaman  Belanda, Inggris berusaha menanamkan pengaruhnya di Singkil. Memasuki  abad XVII, perusahaan dagang Inggris yang tergabung dalam East Indian  Company berusaha menanamkan pengaruhnya di Singkil. Setelah Inggris  memantapkan kekuasaannya di kawasan Bengkulu (Fort Marlborough), Natal,  Poncan dan Barus, perusahaan dagang Inggris berusaha mencari hasil bumi  di wilayah Singkil. Secara diam-diam para penguasa Singkil melakukan  hubungan dagang dengan Inggris. Hal tersebut menimbulkan pertentangan  dengan Belanda yang telah lebih dahulu menguasai Singkil. Menyadari  bahwa Singkil telah menjadi wilayah kekuasaan Belanda, Inggris kemudian  meninggalkan Singkil.</p>
<p>Sumber: Sudirman dalam &#8220;Sejarah Maritim Singkil&#8221;</p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=136&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/05/16/sejarah-singkil-cat-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar buku 5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkil Cat.4</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/04/16/sejarah-singkil-cat-4/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/04/16/sejarah-singkil-cat-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 02:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aceh singkil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat Aceh Singkil terdiri dari berbagai suku dan budaya, berdasarkan sejarahnya asal etnis yang paling dominan adalah dari Minang dan Dairi, suku Minang banyak menguasai dalam bahasa pengantar dagang, sedangkan mayoritas suku Dairi berbahasa Ulu (mudik), yaitu bahasa Dairi dialek Singkil dan bahasa Minang dilalek pesisir. Singkil sebagai bandar dan kota perdagangan tentunya mempunyai daya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=134&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-156" title="gambar buku 4" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-4.jpg?w=213&#038;h=237" alt="" width="213" height="237" /></a>Masyarakat Aceh Singkil terdiri dari berbagai suku dan budaya, berdasarkan sejarahnya asal etnis yang paling dominan adalah dari Minang dan Dairi, suku Minang  banyak menguasai dalam bahasa pengantar dagang, sedangkan mayoritas  suku Dairi berbahasa Ulu (mudik), yaitu bahasa Dairi dialek Singkil dan  bahasa Minang dilalek pesisir.</p>
<p style="text-align:justify;">Singkil sebagai bandar dan kota  perdagangan tentunya mempunyai daya tarik tersendiri bagi penduduk dari  daerah lain sebagai tempat mencari nafkah. Fenomena ini telah  menyebabkan penduduk daerah tersebut sangat hiterogen jika ditinjau dari  suku bangsa. Pada tahun 1852 jumlah penduduk Kota Singkil sebanyak  2.104 orang yang terdiri dari 6 orang Eropa, 55 orang Cina, 183 orang  Arab dan sisanya adalah penduduk setempat dari berbagai kelompok suku  bangsa. Memperhatikan data tersebut terlihat bahwa di Kota Singkil  dahulu terdapat 2 kelompok suku bangsa dari luar, yaitu Arab dan Cina  yang secara turun temurun mempunyai budaya yang cukup kuat   dalam  berdagang. Kehadiran kedua kelompok suku bangsa tersebut kiranya dapat  memperkuat hipotesis yang mengatakan bahwa  Singkil memang merupakan  kota perdagangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya pada tahun 1894 Kota Singkil didatangi  oleh orang-orang Melayu dari Kesultanan Pahang. Mereka adalah  orang-orang Melayu yang melarikan diri karena Kerajaan Pahang diduduki  oleh pasukan Inggris. Di Kota Singkil mereka mempersiapkan diri untuk  berjihad dan mengharap dapat bantuan dari Kerajaan Aceh dalam melawan  agresi pasukan Inggris tersebut. Mereka baru kembali ke Pahang setelah  mendapat himbauan dari para ulama kesultanan supaya mereka melakukan  perjuangan dari dalam negeri.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang agama penduduk pada  masa itu, bahwa umumnya masyarakat Singkil beragama Islam, dan sebagian  kecil memeluk agama Kristen, yang terletak di daerah Simpang Kanan di  desa Kutakerangan. Sesuai dengan keputusan Gubernur Hindia Belanda  diberikan penetapan pada Huria Kristen Batak Protestan tanggal 10  Januari 1935 No. 37 atas permintaan dari ketua Huria untuk diberikan  izin mendirikan sebuah gereja, yang kemudian dinamakan Gereja Zending  Batak.<br />
Dalam sebuah laporan W.L. Ritter menyebutkan bahwa penduduk  Singkil  sekitar 600 orang atau sekitar 150 buah rumah tangga, akan  tetapi apabila diperkirakan sampai kepada penduduk yang ada di pedalaman  mencapai 10.000 jiwa. Hubungan penduduk Singkil dengan Pak-pak yang  belum beragama di pedalaman umumnya berjalan harmonis.</p>
<p style="text-align:justify;">Ritter juga  menambahkan bahwa Bangsa Proto Malayan yang terdesak oleh bangsa  Mongolia, mengarungi Lautan Hindia (Indonesia) menuju ke wilayah  Singkil. Sebagian dari mereka itu memasuki ke arah arus Simpang Kanan  terus ke Dairi, sehinga mereka menjadi marga Dairi. Sebagian daerah itu  bercampur dengan suku asli dan disertai dengan masuk suku Minang. Dari  itu muncullah suku Singkil yang terdiri dari campuran suku pendatang  dari suku Minang, Batak, Nias, Aceh, suku Singkil.<br />
Tentang jumlah  penduduk Kota Singkil pada waktu itu tidak disebutkan dalam laporan  penyelidikan Belanda ketika akan menyerbu Aceh pada abad ke-19. Belanda  hanya menyebutkan bahwa Tapaktuan adalah sebenarnya pemukiman dari orang  Pasaman di wilayah gunung opir, dan merupakan pelabuhan utama untuk  ekspor lada karena tidak saja ditanam di sekitarnya, tetapi juga di  tempat-tempat lebih ke selatan seperti Asahan, Terbangan, Sinabu dan  Bakongan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang penduduk dari XXV Mukim Aceh Besar dengan  pengikutnya pindah ke Susoh (Aceh Selatan), lalu menjadi kepala kampung  di Susoh. Dua orang keturunannya, yang pertama bernama Bassa Bujang  (Bujang Bapa) pindah ke Trumon, dan yang kedua bernama  Lebai Dapha  (Haji Dafna) pindah ke Singkil, dan berhasil mengembangkan pertanian  lada di Singkil. Penguasa daerah Singkil pada waktu itu menaruh simpati  kepada Haji Dafna dan menikahkan anak putrinya dengan Lebai Dapha (Haji  Dafna), bahkan menyerahkan pimpinan kenegerian tersebut kepada Lebai  Dapha. Bassa Bujang yang kurang berhasil di Trumon mengundang adiknya  (Haji Dafna), supaya pindah ke Trumon. Permintaan itu dituruti oleh  Lebai Dapha tanpa melepaskan kedudukannya di Singkil. Kedua daerah itu  kemudian berkembang dengan pertanian lada.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil pertanian tersebut  dapat meningkatkan pendapatan mereka yang memimpin kenegerian itu. Lebai  Dapha kemudian meninggal dan meninggalkan 17 orang putri dan 10 orang  putri. Putranya yang laki-laki bernama Raja Bujang menggantikannya  menjadi raja di Trumon dan putranya yang kedua bernama Muhammad Arif  memerintah di Singkil.</p>
<p>Sumber: Sudirman dalam &#8220;Sejarah Maritim Singkil&#8221;</p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=134&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/04/16/sejarah-singkil-cat-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar buku 4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkil Cat.3</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/03/16/sejarah-singkil-cat-3/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/03/16/sejarah-singkil-cat-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 02:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aceh singkil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa almanak Pemerintah Hindia Belanda diterangkan bahwa Kota Singkil (Singkil pertama) telah dibangun pada tahun 1841. Dijelaskan bahwa pada saat itu daerah tersebut merupakan salah satu wilayah yang tergabung dalam Keresidenan Tapanuli. Data atau informasi yang disajikan tersebut kiranya perlu disikapi secara hati-hati, apakah Kota Singkil memang baru dibangun pertama kali pada tahun 1841 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=129&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-154" title="gambar buku 3" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-3.jpg?w=225&#038;h=225" alt="" width="225" height="225" /></a>Dalam beberapa almanak Pemerintah Hindia Belanda diterangkan bahwa Kota  Singkil (Singkil pertama) telah dibangun pada tahun 1841. Dijelaskan  bahwa pada saat itu daerah tersebut merupakan salah satu wilayah yang  tergabung dalam Keresidenan Tapanuli. Data atau informasi yang disajikan  tersebut kiranya perlu disikapi secara hati-hati, apakah Kota Singkil  memang baru dibangun pertama kali pada tahun 1841 atau pada saat itu  kota tersebut hanya melanjutkan program pembangunan yang telah ada  sebelumnya. Akan tetapi yang jelas semenjak saat itu mulailah di Kota  Singkil dibangun berbagai fasilitas pemerintahan, seperti rumah  controleur (1843), Pendopo (1847), Kantor Keuangan (1850), Kantor Bea  Cukai dan Pelabuhan (1850), dan sebuah Rumah Sakit Militer (1949).  Selain itu, dibangun pula pemukiman penduduk dan pasar. Pada saat  pemerintahan Belanda melakukan Sensus Sosial Ekonomi pada tahun 1852  diterangkan, bahwa semua infrastruktur yang telah dibangun sebelumnya  masih dalam kondisi yang baik kecuali rumah controleur. Kemudian pada  tahun 1857 dibangun pula sebuah penjara.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara geografis  kota Singkil pertama terletak di sebelah barat kota Singkil yang  sekarang yaitu tepatnya terletak di ujung kota Singkil. Bekas kota  Singkil pertama tersebut saat ini terletak jauh di tengah laut dan  daerah itu merupakan jalur yang berbahaya bagi pelayaran kapal. Para  nelayan Singkil menyebut lokasi tersebut dengan nama Berok. Pada saat  pasang surut kadang-kadang bekas bangunan perumahan penduduk pada jaman  dahulu muncul ke permukaan dan dapat dilihat, terutama oleh  nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan. Selain itu, bekas-bekas  bangunan dan peralatan rumah tangga penduduk kota Singkil pertama sering  pula didapatkan penduduk pada saat mereka melaut. Hanya sayangnya  berbagai bukti sejarah tersebut tidak pernah diinventarisasi dan  diteliti.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kota Singkil pertama hancur mulailah  pemerintah Belanda mempersiapkan sebuah kota baru yang lokasinya agak  menjorok ke darat dan persiapannya dimulai sejak tahun 1861 sampai tahun  1863. Kota tersebut mulai ditempati pada pertengahan tahun 1863 dan  dikenal dengan kota Singkil kedua. Kota Singkil kedua tersebut terletak  berseberangan dengan kota Singkil yang sekarang. Kota Singkil kedua  sering juga disebut dengan Singkil Lama. Sedangkan kota Singkil yang  sekarang disebut dengan Singkil Baru (Niew Singkil). Kota Singkil kedua  tersebut terpaksa harus ditinggalkan karena terjadinya pendangkalan di  muara sungai Singkil yang mengakibatkan jauhnya kapal-kapal untuk  bongkar muat barang, terutama untuk kepentingan militer Belanda.</p>
<p style="text-align:justify;">Kota Singkil sekarang terletak di tepi muara  sungai Singkil dan  pinggir pantai barat Aceh. Kota Singkil merupakan kota yang  dipersiapkan Belanda sebagai pusat administrasi. Sebelum memindahkan  Kota Singkil lama tersebut, pemerintah Belanda terlebih dahulu mengatur  tata kota Singkil Baru dengan mendirikan kantor-kantor pemerintah, rumah  controleur, tangsi Militer, rumah Beacukai, Dermaga, Mercusuar,  Lapangan Bola Kaki, Gedung Sekolah, lokasi rumah penduduk, dan  pengaturan jalan-jalan. Rumah-rumah orang Eropa sengaja dibangun  tersendiri dan menghadap sebuah danau besar yang semula merupakan alur  sungai Singkil. Bekas danau tersebut saat ini telah ditumbuhi  berbagai  tumbuhan rawa, seperti nipah dan eceng gondok yang mengakibatkan  terjadinya pendangkalan di muara sungai Singkil.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah Hindia Belanda juga membangun rumah Datuk Besar Singkil yang  biasa disebut dengan Rumah Gadang dan sebuah mesjid besar. Selain itu,  pemerintah Hindia Belanda juga membangun sebuah kantor pos serta kantor  telegram yang dapat menghubungkan kota Singkil dengan berbagai kota  lainnya di Indonesia. Sebagian bangunan peninggalan Belanda tersebut  masih dapat dijumpai di kota Singkil seperti rumah Gadang, rumah  controleur dan dermaga. Sebaliknya bekas-bekas rumah orang Eropa  kebanyakan sudah diruntuhkan dan diganti dengan bangunan kantor  pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Wilayah Singkil yang terletak di pantai barat  Sumatera, berdasarkan keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 10  Oktober 1908 No. 3 serta Stbl. No. 604 tahun 1908, sebagai berikut:<br />
<em>Di  pantai Lautan Hindia (Indonesia) pada ketinggian puncak dari Blang  Sulpa ke Lae Muntu, kemudian ke arah kanan dari ujung sungai dan  terdapat jalan kecil dari pangkalan Cinendang yang membelah dari  Sukananing dan pangkalan Puge. Dari pangkalan Puge sampai ketinggian  puncak Dleng Pemberangan dan Deleng Belilingen, Deleng Cambaren, Deleng  Pangulubalang, Deleng Pabaken Singkeruh ke Muara Sibalik. Selanjutnya  menuju ke depan dari seberang Simpang Kiri ke Lae Bengkong dengan  perbatasan sungai. Garis perbatasan utara Singkil dengan Alas dapat  dilihat dari Lae Bengkong sampai pantai laut Itam.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Perbatasan sebelah  barat sesuai dengan surat keputusan Gubernur Hindia Belanda pada  tanggal 27 Januari 1930 No. 32/p.z, sebagai berikut: sebelah kiri dari  Alur Putih atau arah timur menuju Gunung Manu dan ke arah selatan menuju  Titi Orat. Dari Titi Orat ke arah Selatan menuju Titi Toro. Arah  sebelah barat menuju Suak Mangkuto sampai ke ujung Lintang Utara  sungai-sungai yang membelok dari arah barat kemudian ke batas berikutnya  sampai pada tempat Mampelam dan terakhir ke arah kanan Barat Daya  mengarah ke Ujung Pasir Galak. Sebelah selatan merupakan batas lautan  Indonesia termasuk Pulau Banyak di sebelah barat daya Singkil serta lima  pulau besar di Ujung Manuk-Manuk.</em></p>
<p>Sumber: Sudirman dalam &#8220;Sejarah Maritim Singkil&#8221;</p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=129&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/03/16/sejarah-singkil-cat-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar buku 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkil Cat.2</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/02/16/sejarah-singkil-cat-2/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/02/16/sejarah-singkil-cat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 02:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[aceh singkil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Singkil sangat menarik untuk dikaji, baik dari segi sejarah, sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hal itu disebabkan kota tersebut pernah mengalami kejayaan, terutama di bidang ekonomi sekitar abad ke-18 ketika Kota Singkil menjadi Banda (pelabuhan) di bagian pantai selatan Aceh dan sekaligus menjadi kota perdagangan. Pada saat itu segala perdagangan lada yang akan diekspor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=125&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-8.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-166" title="gambar buku 8" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-8.jpg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a>Sejarah Singkil sangat menarik untuk dikaji, baik dari segi sejarah,  sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hal itu disebabkan kota tersebut  pernah mengalami kejayaan, terutama di bidang ekonomi sekitar abad ke-18  ketika Kota Singkil menjadi Banda (pelabuhan) di bagian pantai selatan  Aceh dan sekaligus menjadi kota perdagangan. Pada saat itu segala  perdagangan lada yang akan diekspor ke Amerika Serikat harus melalui  Kota Singkil (A.Doup, 1899). Bahkan kota tersebut menjadi daya tarik  penduduk daerah lain sebagai tempat untuk bekerja. Pada saat itu memang  ada istilah bagi penduduk di Aceh yang mengatakan pergi ke rantau barat  yang berarti pergi ke pantai selatan Aceh untuk mencari nafkah dan  sekaligus bertanam lada (C. Snouck Hurgronje, 1906). Daerah Trumon  merupakan salah satu daerah penghasil lada di Pantai Barat yang saat itu  berada di wilayah Singkil (G.A. Fokker, 1935 dan J.Siegner, 1940).</p>
<p style="text-align:justify;">Menentukan kapan kota Singkil dibangun pertama kali tentunya  merupakan pekerjaan yang sangat sulit apabila menentukan tanggal, bulan  atau tahun. Pendekatan yang digunakan paling maksimal kemungkinan hanya  dapat memperkirakan pada abad keberapa sebenarnya kota Singkil dibangun.  Keterbatasan ini kiranya berkaitan dengan bukti sejarah dan empiris  yang ada saat ini yang tidak dapat mendukung secara maksimal dalam  menentukan kapan kota tersebut sebenarnya mulai dibangun. Oleh karena  itu, berbagai pendekatan yang sifatnya tidak langsung, terutama melalui  pendekatan sejarah mutlak harus dilakukan dan kemudian dilanjutkan  dengan pendekatan empiris melalui sebuah penelitian yang komprehensif  dan melibatkan berbagai pakar, terutama dalam bidang Arkeologi dan  Paleantropologi. Seperti diketahui bahwa Syekh Abdurrauf Al Singkili  lahir pada pertengan abad ke –17 (1616-1693) (Liaw Yock Fang, 1993).  Apabila dikaitkan dengan kelahirannya secara tidak langsung menunjukkan  bahwa kemungkinan Kota Singkil telah dibangun pada abad tersebut. Hal  ini mengingat bahwa Abdurrauf Al Singkili lahir di kota tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan-catatan asing yang tertua mengenai Singkil masih  sedikit didapatkan, kecuali Barus dan Fansur (walaupun dahulunya Singkil  juga termasuk wilayah Fansur) yang memang sudah banyak dikenal karena  hasil alamnya yaitu kapur barus. Baru setelah abad ke-9 M, di samping  Barus dan Fanshur sudah mulai banyak catatan, terutama dari pelawat  Islam tentang Niyan (Nias). Buzurg ibn Shahriyar Ramhurnuz (850 M) dalam  bukunya  Akhbar al Sin wal Hind, menyebutkan bahwa ”penduduk yang ada  di sekitar Barus masih primitif. Kalau ada kapal yang karam di laut  dekat Fanshur,  para pelawat asing tersebut berusaha mencapai Lamuri,  karena di sana ada teman sebangsanya dan untuk dapat memudahkan pulang  ke negerinya dengan menumpang kapal.”</p>
<p style="text-align:justify;">Agresi Belanda ke Singkil  melalui Perang Batu-Batu, menyebabkan wilayah singkil berada dalam  sistem pemerintahan langsung (Gubernemen Gebied) seperti halnya Aceh  Besar, sebagai daerah yang berhasil dikuasai oleh Belanda melalui  perang. Belanda kemudian mendirikan pemerintahan di Singkil, dan antara  tahun 1903-1908 Landschap Trumon termasuk dalam kekuasaan onderafdeling  Singkil.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila ditinjau perkembangan ekonomi Kota Singkil pada abad  ke-18 ternyata cukup maju sebagai kota perdagangan. Dijelaskan bahwa  nilai ekspor barang dikirim melalui pelabuhan Singkil pada tahun 1851  mencapai 300.000 Gulden. Barang-barang yang paling bernilai diekspor  melalui pelabuhan Kota Singkil adalah lada. Hasil bumi lainnya yang  berasal dari wilayah Singkil yang di ekspor melalui pelabuhan Singkil  adalah minyak nilam, damar, karet, gambir, kelapa, rotan dan kapur  barus.<br />
Perkembangan kota Singkil selanjutnya bagaikan  sebuah drama yang meninggalkan sebuah tragedi yang memilukan. Pada saat  kota tersebut mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat tiba-tiba  pada tanggal 12 Februari 1861, kota Singkil hancur karena dilanda gempa  bumi (tektonik) dan gelombang laut yang sangat dahsyat (E.B. Kielstra,  1892). Daerah lain di pantai barat Aceh yang dilanda gempa bumi tersebut  adalah sebagian dari wilayah Aceh Selatan, seperti Meukek, Susoh, dan  Kuala Batee. Gempa bumi tersebut telah mengakibatkan hancurnya hampir  semua infrastruktur yang dibangun pemerintah Belanda sebelum tahun 1852  dan juga telah menghancurkan perkebunan lada penduduk tidak hanya di  Singkil, melainkan juga di daerah lain di pantai barat Aceh.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara administrasi kota Singkil mempunyai 4 desa, yaitu desa  Kilangan, Ujung, pasar, dan desa Pulau Sarok. Pada tahun 1905 penduduk  Kota Singkil berjumlah 1.665 orang, namun pada tahun 1930 jumlah  penduduk berjumlah 5 kali lipat, menjadi 3.301 orang (W.K.H. Ypes,1907  :284 dan J.Pauw, 1935 : 75). Meningkatnya jumlah penduduk tersebut  berkaitan erat dengan status kota Singkil sebagai pusat administrasi dan  perdagangan, sehingga merupakan faktor penarik bagi penduduk daerah  lain untuk bermigrasi ke daerah tersebut.<br />
Selain  berfungsi sebagai pusat administrasi, kota Singkil juga berfungsi  sebagai pusat perdagangan. Setelah pindah ke kota Singkil Baru, Singkil  kembali menemukan kejayaannya sebagai kota perdagangan yang cukup  dikenal di pantai selatan Aceh. Kota Singkil merupakan tempat transit  barang-barang yang akan diperdagangkan, terutama barang-barang yang  berasal dari Alas, Dairi, Simeulue, dan Pulau Banyak, demikian pula  sebaliknya (G.A. Fokker, 1936). Pada zaman Belanda, kota Singkil secara  teratur dalam dua minggu sekali disinggahi oleh kapal KPM. (J.J. van de  Velde, 1987).</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu peninggalan yang cukup penting  dan merupakan bukti bahwa kota Singkil merupakan kota perdagangan dapat  dilihat dari bentuk rumahnya. Sebagian besar bangunan rumah bertingkat  dua, sebelumnya rumah-rumah tersebut berfungsi sebagai tempat berjualan  dan tempat tinggal. Pada bagian bawah biasanya digunakan sebagai tempat  berjualan, sedangkan di bagian atas berfungsi sebagai tempat tinggal.  (Kompas, 1991). Pada saat ini kebanyakan rumah tersebut berfungsi  sebagai tempat tinggal dan hanya sebagian kecil dari penduduk yang  menggunakan sebagai tempat berjualan.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut legenda  atau cerita orang tua-tua, bahwa asal-usul Singkil itu dari tiga tempat  yaitu Kampung Gelombang di alur Lae Souraya Simpang Kiri adalah daerah  yang pertama sekali terhempas oleh gelombang pasang naik, dan sebagai  muaranya adalah Kuala Kapeng. Akibat erosi sungai, lama-kelamaan  menimbulkan tanah yang muncul ke permukaan sehingga sungai menjadi  dangkal dan beralih ke daerah lain. Akibat erosi sungai tersebut muncul  daerah Paya Bumbung, Rantau Gedang, Teluk Ambon, Kuala Baru. Kampung  Singkil Lama, menurut cerita sudah tenggelam. Daerah itu dahulu terletak  di depan daerah Kilangan yang bernama Pasir Tangah. Menurut cerita,  sekitar tahun 1890 pada hari Jumat terjadi amukan Lautan Hindia (Lautan  Indonesia), air laut mengadakan pergeseran yang begitu cepat dengan  membawa arus gelombang yang membersihkan pantai pelabuhan Singkil,  sehingga hilang dari permukaan. Sebagian dari mereka dapat menyelamatkan  diri dan pindah ke daerah Singkil sekarang, yang disebut daerah Singkil  Baru, oleh Belanda menamakannya dengan Niew Singkil. Dari tiga daerah  itulah disebutkan asal wilayah Singkil. Wilayah Pasir Tangah manakala  air surut dapat kelihatan batu-batuan bekas rumah. Daerah ini menjadi  lautan yang berbahaya bagi para nelayan, yang disebut Ujung Singkil.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerita  lain menyebutkan, bahwa Singkil pada mulanya terletak di daerah yang  telah mempunyai bahasa sendiri sehingga disebut Singkel, yang berasal  dari kata Sikkel (suka, senang atau ingin), yang kemudian berubah  menjadi Singkel. Hal ini terjadi dari asimilasi para pedagang Timur  Tengah dengan suku Hindia, dan penduduk asli, sehingga muncul suatu  kebudayaan tersendiri. Asal kata Singkil juga disebutkan bahwa pada  zaman perdagangan dengan perahu layar dahulu, ketika terjadi angin ribut  dan badai, maka para awak perahu tersebut menyingkir mencari tempat  perlindungan dengan memasuki teluk-teluk yang ada di sekitarnya.  Disebabkan kebiasaan menyingkir itu, maka lama-kelamaan menjadi Singkil,  yang maksudnya menyingkir.</p>
<p style="text-align:justify;">Nama Singkil mulai banyak terdapat dalam  catatan asing sekitar abad   ke-16 M, bahkan seorang ulama yang terkenal  di Aceh dan juga Nusantara yaitu Syaikh Abdurrauf Syiah Kuala juga  berasal dari Singkil. Seorang pencatat bangsa Portugis terkenal bernama  Tome Pires, menulis buku laporan mengenai Nusantara dari tempat  tinggalnya di Malaka antara tahun 1512-1515 M. Ia menulis mengenai  pantai barat Sumatera, seperti Andalor (Andalas), Tiquo (Tiku),  Pariaman, Minhac Barras (Nias) serta Baruus (Barus), juga untuk pertama  kalinya menyinggung tentang kerajaan Chinquelle atau Quinchell  (Singkil). Tome Pires menyebutkan bahwa Kerajaan Singkil berbatasan  dengan Kerajaan Barus, di sebelah utara berbatasan dengan Kerajaan  Mancopa atau Daya, Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya), sedangkan  penduduknya yang di pedalaman bersifat kanibal. Raja Singkil pada waktu  itu belum beragama. Di wilayah kerajaan Singkil ini banyak menghasilkan  damar, sutera, lada, emas. Mempunyai perahu yang laju dan ada  sungai-sungai. Kerajaan Singkil itu melakukan hubungan dagang dengan  Pasai, Barus, Tiku dan Pariaman. Penduduk yang tinggal di pedalaman  memakan daging manusia dari musuh-musuh mereka yang tertangkap. Menurut  Veth (1873) nama Sinckel juga sudah mulai ada dalam peta Petrus Plancius  pada tahun 1592 M.</p>
<p style="text-align:justify;">Tom Pires juga menyebutkan bahwa Singkil dibagi  dalam dua kerajaan, yaitu Singkil Hulu dan Singkil Hilir. Dalam Kerajaan  Singkil Hulu terdapat sekitar sebelas kerajaan kecil di kawasan Simpang  Kanan, dan sepuluh kerajaan kecil di kawasan Simpang Kiri. Sedangkan  kerajaan-kerajaan Singkil Hilir termasuk Pulau Banyak dibagi dalam tujuh  daerah kerajaan.<br />
Secara administratif pemerintah kolonial Belanda  membagi keresidenan Aceh menjadi dua wilayah yang mereka sebut  rechtreeks bestuur gebied daerah yang diperoleh oleh Belanda melalui  perang. Kepala pemerintahan disebut districthoofd dan daerah taklukan  atau zelfbestuur gebied, juga disebut landschap (swapraja), yang  dikepalai oleh zelfbestuurder. Onderafdeling Singkil pada waktu itu  termasuk dalam Onderafdeling Zuidelijk Atjeh Landschappen, yang terdiri  atas distrik Singkil, Simpang Kanan, Simpang Kiri, dan Onderafdeling  Banyak Einlanden (Pulau Banyak). Distrik Hoofd Singkil adalah Datuk A.  Murad, Simpang Kanan oleh T. Raja Hidayo, Simpang Kiri oleh Ruhum, dan  Onder District Pulau Banyak oleh Raja Alamsyah. Controleur onderafdeling  Singkil pernah dipegang oleh A.J. Piekaar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1861 hingga  1907, untuk lebih mudah pengawasan, maka Pemerintah Hindia Belanda atas  permintaan komandan tentara Belanda di Kutaraja menugasi Pootman sebagai  residen yang sekaligus diperbantukan kepada tentara KNIL, memegang  pemerintahan militer selama pemerintahan sipil belum terbentuk, dan  memutuskan bahwa wilayah Singkil tunduk kepada Gubernur Sipil dan  Militer Aceh yang berkedudukan di Kutaraja. Hal tersebut ditetapkan pada  tahun 1905 dengan Stbl. No. 440.<br />
Controleur J.C. Tigelman sesuai  dengan laporan terakhirnya pada tanggal 15 Nopember 1941, bahwa wilayah  Singgkil terdiri atas 4 jabatan districthoofd dan 16 onderdistricthoofd,  yaitu: District Benaden Singkil terdiri atas Onderdistrict Benaden  Singkil adalah Datuk A. Murad, Onderdistrict Rantau Gadang,  Onderdistrict Teluk Ambon, dan Onderdistrict Paya Bumbung oleh Raja  Maholi. Distrik Simpang Kanan terdiri atas Onderdistrict Tanjung Mas  oleh Datuk Bambon, Onderdistrict Belegen, Onderdistrict Kombih oleh  Datuk Ruhum, Onderdistrict Kota Baru oleh Raja Baharu, Onderdistrict  Tualang oleh Raja Gontar, Onderdistrict Longkip oleh Raja Kuta,  Onderdistrict Pasir Belo oleh Raja Yusuf, serta Onderdistrict Batu-Batu  oleh Raja Kamaruddin. District Banyak Einlanden oleh Sutan Umar, terdiri  dari Onderdistrict Pulau Tuanku oleh Datuk Somik dan Onderdistrict  Pulau Delapan oleh Datuk Badiaga.</p>
<p>Sumber: Sudirman dalam &#8220;Sejarah Maritim Singkil&#8221;</p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=125&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2009/02/16/sejarah-singkil-cat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2011/03/gambar-buku-8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar buku 8</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan di Aceh Singkil</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2008/10/29/kerajaan-kerajaan-di-aceh-singkil/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2008/10/29/kerajaan-kerajaan-di-aceh-singkil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 09:12:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan-kerajaan di Aceh Singkil Bagian Hulu Daerah ini pernah dikuasai oleh tiga kerajaan kecil (Sabeak). Masing-masing : Negeri dari Marga Angkat, Negeri dari Marga Tendang yang beribukota Panisihan dan Negeri dari Marga Buluara. Ketiga negeri tersebut akhirnya lenyap. Beberapa tahun kemudian muncullah Kerajaan Berguh Tugan di wilayah Simpang Kanan (sungai Simpang Kanan). Tepatnya terletak didekat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=25&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Kerajaan-kerajaan di Aceh Singkil Bagian Hulu</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2008/10/buku-tua.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-61" title="Knowing Our History" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2008/10/buku-tua.jpg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Daerah ini pernah dikuasai oleh tiga kerajaan kecil (Sabeak). Masing-masing : Negeri dari Marga Angkat, Negeri dari Marga Tendang yang beribukota Panisihan dan Negeri dari Marga Buluara. Ketiga negeri tersebut akhirnya lenyap. Beberapa tahun kemudian muncullah Kerajaan Berguh Tugan di wilayah Simpang Kanan (sungai Simpang Kanan). Tepatnya terletak didekat Kampung Tugan.</p>
<p style="text-align:justify;">Menuju ke arah muara, di sekitar sungai Simpang Kanan tumbuh menjamur kerajaan-kerajaan kecil. Antara lain: Kerajaan Jantan Arus (seberang sungai Simpang Kanan), Kerajaan Bajar Pintor di Hilir Pakiraman, Kerajaan Betahpe didekat Kampung Surau, Kerajaan Kehing dan Raba (keduanya di belakang Cibubukan), Kerajaan Uhuk Latar (di belakang Surau) dan Kerajaan Huta Batu.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut trombo, kerajaan-kerajaan kecil itu tunduk kepada Kerajaan Pagaruyung Minangkabau, keturunan dari Cindur Mata. Ketika Putra Maharaja Minangkabau kawin dengan Putri Aceh, wilayah Simpang Kanan dan Simpang Kiri yang disebut juga “Rantau 12” dijadikan Mas Kawin. Dengan demikian kerajaan-kerajaan tersebut menjadi daerah kekuasaan Aceh.</p>
<p style="text-align:justify;">Penobatan raja-raja di semua wilayah kekuasaan Aceh, dilakukan langsung oleh Sultan Aceh. Biasanya dilaksanakan dalam sebuah upacara dengan Surakata dan Keris kebesaran (Bawar). Kemudian di wilayah Singkil Hulu ini, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil yang disebut “Raja Sinambelas” (Raja 16) yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">Simpang Kanan : terdiri dari Raja Tanjung Mas, Raja Surau, Raja Selatong, Raja Ujung Limus, Penghulu Pakiraman, Penghulu Simsim, Penghulu Rantau Panjang, Penghulu Tanah Merah, Kejeruen Sarasah, O.K. Balau Punaga dan Saping.</p>
<p style="text-align:justify;">Simpang Kiri : terdiri dari Raja Tualang, Raja Kota Baru, Raja Pasir Belo, Raja Binanga, Penghulu Belegen, Penghulu Kumbi, Penghulu Batu-batu, Penghulu Longkip dan Penghulu Samar Dua.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka (baik yang di Simpang Kanan maupun yang di Simpang Kiri) memimpin sepetak wilayah. Wilayah-wilayah tersebut kemudian terkenal dengan nama penguasanya. Misal wilayah yang dipimpin oleh Raja Tualang, dikenal orang sebagai Kerajaan (Negeri) Tualang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Singkil dianeksasi oleh Belanda dan dijadikan <em>enderafdeeling</em> pada tahun 1840, keduapuluh penguasa (raja) itu disatukan dalam sebuah wadah bernama Dewan Rapat. Tetapi mereka tetap memimpin daerah masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepada raja-raja tersebut, Belanda memberikan juga tongkat jabatan. Raja Tanjung Mas (dari Simpang Kanan) dan Raja Tualang (dari Simpang Kiri) diberi tongkat jabatan berjambul emas, mengingat keduanya adalah raja yang diangkat oleh Kesultanan Aceh pertama kali. Sedang raja-raja lain diberi tongkat jabatan berjambul perak. Setiap raja didampingi <em>pengapit</em> (Mentri) dalam melaksanakan tugasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sumber: (Alm.) Drs. H. Sayed Mudhahar Ahmad dalam buku &#8216;Ketika Pala Mulai Berbunga (Seraut Wajah Aceh Selatan)&#8217;</em></p>
<br />Posted in Sejarah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=25&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2008/10/29/kerajaan-kerajaan-di-aceh-singkil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2008/10/buku-tua.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Knowing Our History</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Habitat Penyu Hijau Terancam</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/habitat-penyu-hijau-terancam/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/habitat-penyu-hijau-terancam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 03:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/habitat-penyu-hijau-terancam/</guid>
		<description><![CDATA[Pengelolaan Pulau Bengkaru di Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, perlu dievaluasi. Sebab, pulau tempat bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriaceae) itu ternyata diserahkan pemerintah kabupaten kepada pengusaha telur penyu. Setiap hari sekitar seribu telur penyu hijau dan penyu belimbing dari salah satu pulau terluar di Indonesia yang berjarak sekitar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=23&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2007/08/telur-penyu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-63" title="telur penyu" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2007/08/telur-penyu.jpg?w=275&#038;h=183" alt="" width="275" height="183" /></a>Pengelolaan Pulau Bengkaru di Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, perlu dievaluasi. Sebab, pulau tempat bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriaceae) itu ternyata diserahkan pemerintah kabupaten kepada pengusaha telur penyu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap hari sekitar seribu telur penyu hijau dan penyu belimbing dari salah satu pulau terluar di Indonesia yang berjarak sekitar 58 mil dari kota Singkil itu diambil dan dijual bebas oleh pengusaha yang memenangi lelang. Ini bukan mustahil mengancam habitat penyu yang terancam punah tersebut.<br />
Sumali (36), pengelola Pulau Bengkaru (12.000 hektar), yang ditemui baru-baru ini mengatakan, setiap bulan ia menyetor Rp 1 juta kepada Dinas Pendapatan Kabupaten Singkil atas hak pengelolaan telur penyu di pulau itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumali juga mengaku mengeluarkan uang Rp 1,6 juta per bulan untuk sejumlah pejabat di Kecamatan Pulau Banyak hingga Kabupaten Singkil. Saya menjalankan hak mengelola telur penyu di Bengkaru, yang kontraknya atas nama adik saya, Risman. Pengambilan telur penyu sudah berlangsung lama, dan pengusaha yang menang kontrak berganti-ganti. Kami baru sekali memenangi kontrak, kata Sumali.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Surat Perjanjian Kontrak Nomor 973/475/2005 yang ditandatangani Risman (33) selaku pengusaha dan Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Singkil Sjamsuddin Rizzard atas nama Bupati Singkil pada 23 Oktober 2005, Risman diperbolehkan mengambil 50 persen telur penyu di titik ketiga pada garis pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Kontrak yang akan berakhir November 2006 itu juga menyebutkan, Risman harus membayar Rp 1 juta per bulan kepada Pemerintah Kabupaten Singkil. Sumali mengaku bebas mengambil dan menjual telur penyu dari Pulau Bengkaru.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti terlihat pekan lalu, dua orang suruhan Sumali mengambil semua telur penyu hijau yang ada di tiga sarang. Malam sebelumnya, penyu yang ada di kawasan itu bertelur sekitar 350 butir.</p>
<p style="text-align:justify;">Pejabat Sementara Bupati Singkil Azmi mengatakan, penjualan telur penyu dibuat oleh bupati lama. Saya menjabat untuk sementara, sejak Juni 2005, katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai kontrak terakhir yang ditandatangani pada Oktober 2005, Azmi mengatakan, ia tidak diberi tahu oleh bawahannya mengenai hal itu. Secara pribadi saya tidak tahu, tetapi akan saya selidiki. Pengelolaan penyu di Bengkaru tidak dibenarkan karena penyu harus dikonservasi, ucapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Tachsis, pegawai Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Nanggroe Aceh Darussalam di Kepulauan Banyak, mengatakan, Pulau Bengkaru sudah ditetapkan sebagai kawasan KSDA sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 12/KPTS/II/1987.<br />
Pengambilan telur penyu hijau dan penyu belimbing juga melanggar undang-undang. Namun, kami tak bisa menghentikan pengambilan telur penyu karena pemerintah kabupaten yang melelang kepada pengusaha. Jika tak segera dihentikan, keberadaan penyu langka di Bengkaru akan punah, kata Tachsis. (Kompas)</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.alumni-ipb.or.id/">www.alumni-ipb.or.id</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/acehsingkil.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/acehsingkil.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=23&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/habitat-penyu-hijau-terancam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2007/08/telur-penyu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">telur penyu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyu Langka yang Terancam Punah</title>
		<link>http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/penyu-langka-yang-terancam-punah/</link>
		<comments>http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/penyu-langka-yang-terancam-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 03:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>acehsingkil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/penyu-langka-yang-terancam-punah/</guid>
		<description><![CDATA[PASIR putih membentang sepanjang pantai Pulau Bangkaru. Ombak kecil yang mendesir di bibir pantai membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati pemandangan indah nan menawan di pulau asing itu. Di balik keindahan itu, Pulau Bangkaru ternyata menyimpan segudang masalah. Habitat Penyu Hijau dan Penyu Belimbing yang ada di Pulau Bangkaru, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil, terancam punah. Padahal, dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=22&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2007/08/penyu-sedih.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-66" title="penyu hijau yang bersedih" src="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2007/08/penyu-sedih.jpg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a>PASIR putih membentang sepanjang pantai Pulau Bangkaru. Ombak kecil yang mendesir di bibir pantai membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati pemandangan indah nan menawan di pulau asing itu. Di balik keindahan itu, Pulau Bangkaru ternyata menyimpan segudang masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Habitat Penyu Hijau dan Penyu Belimbing yang ada di Pulau Bangkaru, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil, terancam punah. Padahal, dua jenis penyu itu merupakan spesies langka di Indonesia. Kepunahan dua jenis penyu itu disebabkan telur-telur yang dihasilkan penyu banyak dikonsumsi manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Telur yang dihasilkan penyu belimbing dan hijau berkisar antara 250 dan 300 biji dalam semalam. Penyu-penyu itu bertelur di sepanjang pantai pasir putih yang terhampar sepanjang 1.300 meter yang ada di Pulau Bangkaru. Setiap malam, warga di sana berburu telur penyu untuk dikonsumsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibat perburuan telur penyu hijau dan belimbing ini, kelangsungan hidup kedua penyu langka di Pulau Bangkaru ini pun terancam punah. Ironisnya lagi, di saat penyu-penyu itu terancam punah, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil malah menyewakan pengelolaan pulau tersebut kepada Rosmali, yang lebih dikenal dengan sebutan Juragan Mali. Kini, Juragan Mali lah yang memasarkan telur-telur penyu langka itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai pengusaha yang memenangkan tender pengelolaan pulau tersebut sejak empat bulan lalu, Juragan Mali harus menyetor Rp 1.000.000 per bulan kepada Pemkab Aceh Singkil, yang nantinya masuk sebagai pendapatan asli daerah (PAD).</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menandatangani “kontrak” dengan Dinas Pendapatan Daerah, jadilah Juragan Mali sebagai penguasa Pulau Bangkaru. Dia juga menjadi juragan telur penyu. Pulau Bangkaru itu dijaga dua pekerja Juragan Mali. Sementara dia, sepekan sekali singgah ke pulau terluar itu. Setiap singgah di Bangkaru, dia membawa serta 5.000 hingga 6.000 butir telur, yang dijual Rp 700 per butirnya. Selain dipasarkan di Singkil, telur-telur itu juga dipasarkan ke Sibolga Provinsi Sumatera Utara, melalui perantara para nelayan.</p>
<p style="text-align:justify;">Juragan Mali diharuskan menyetor Rp 1.600.000 setiap bulannya ke pihak kecamatan dan tiga perangkat hukum di Pulau Balai. “Ke Polsek Pulau Banyak, Pos TNI AL, dan Koramil 01 Pulau Balai. Selain uang keamanan, setiap bulan harus mengantarkan 50 butir telur penyu ke Muspika,” kata Juragan Mali kepada acehkita.com dan sebuah media nasional, pekan lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas, adakah upaya untuk menjaga kelangsungan hidup penyu langka?<br />
Mali menyebutkan, pihaknya telah melakukan penangkaran di pulau itu untuk melestarikan penyu. Ada 11 sarang yang telurnya ditangkarkan. Namun upaya itu akan sia-sia lantaran cara penangkarannya tetap tidak efektif karena setelah menetas penyu-penyu muda dibawa dan dirawat di keramba miliknya. “Setelah agak besar baru dilepas lagi ke laut,” katanya. Usaha penangkaran yang dilakukan Juragan Mali tidak sebanding dengan pengambilan telur penyu yang sudah dilakukannya sejak empat bulan silam.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan hanya Mali yang mengancam habitat penyu langka itu. Sebelumnya, telah banyak pengusaha yang mengeruk kekayaan alam Pulau Bangkaru. Selain telur, nelayan asal Sibolga, Sumatera Utara, juga menangkap penyu dewasa untuk dikonsumsi manusia. Penangkapan dilakukan dengan cara menyebarkan jaring ketika penyu “mendarat” ke pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Pulau Bangkaru merupakan salah satu pulau yang terletak di gugusan Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil. Pulau ini mempunyai pemandangan wisata yang sangat menarik dipandang mata. Setiap pendatang yang berkunjung ke pulau ini, pasti akan terkagum-kagum pada keindahan yang disajikan pulau. Karenanya, tidak heran jika banyak pengusaha yang berebutan ini menguasai pulau yang berjarak 32 mil dari Kota Singkil, ibukota Kabupaten Aceh Singkil.</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas apa menariknya Bangkaru? Sebagai satu dari banyak pulau terluar di nusantara ini, Bangkaru telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi alam dan lingkungan oleh Menteri Kehutanan sejak tahun 1990. Selain itu, Pulau Bangkaru mempunyai pantai dengan ombak yang sangat bagus untuk berselancar.<br />
“Ombaknya yang ada di Bali kalah jauh, apalagi yang ada di Pulau Nias,” kata Taksis, salah seorang warga yang kerap mengantarkan wisatawan asing ke pulau tersebut sekitar tahun 1970-1980-an.<br />
Menurut Taksis, setiap tahunnya tidak kurang ada sekitar 6.000an wisatawan yang berwisata ke pulau tersebut. “Biasanya dua hingga tiga malam di sana. Bahkan, ada yang sampai habis visa baru pulang,” kenang Taksis.</p>
<p style="text-align:justify;">Wartawan lokal acehkita.com dan nasional Kompas berkesempatan menuju kesana menapaki pulau “rebutan” itu. Pemandangan hutan alami yang disodorkan sungguh memanjakan mata; hutan perawan yang belum dijamah tangan nakal manusia serakah.<br />
“Bule paling suka dengan <em>tracking</em>. Jadi hutan paling cocok untuk hobi itu,” kata Taksis.<br />
Hanya ada satu pondok reot di pulau itu, yang memiliki sebuah sumur. “Dulu ada bangunan panjangnya 17 dan lebar 8 meter,” sebut Taksis yang bersama sejumlah warga Pulau Banyak lain, melalui sebuah yayasan, berusaha melestarikan lingkungan dan habitat penyu langka di Bangkaru. Yayasan yang disebut Taksis ini pernah mengelola Pulau Banyak selama tiga tahun. Pekerjaan utama yayasan itu adalah menyelamatkan penyu-penyu langka dari kepunahan. Upaya penyelamatan penyu itu, dilakukan warga dengan dibantu peneliti dan penyelamat penyu langka asal Swedia, Andreas de Fos, lebih dikenal dengan sebutan Mahmud Bangkaru.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang, konflik bersenjata pada tahun 1999 memaksa Mahmud Bangkaru keluar dari Aceh. Akibatnya, yayasan itu tidak lagi berjalan karena terkendala biaya operasional. Sebab, sekali jalan untuk menjangkau Bangkaru, harus menghabiskan fulus berkisar antara Rp 800 ribu hingga sejuta rupiah.<br />
“Dulu masih bisa ditutupi karena kita dibantu Mahmud dan para bule yang datang untuk liburan. Dia lihat kita melestarikan penyu dia bantu,” sebut Taksis.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, kehidupan penyu tidak lagi terjaga. Ancaman kepunahan penyu langka itu sudah berada di depan mata. Taksis berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menyelamatkan penyu langka di sana. Jika tidak, berbilang tahun saja, Penyu Hijau dan Belimbing hanya akan tinggal nama saja, akibat keserakahan manusia.</p>
<p>By: Rasyid J</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.acehkita.com/">www.acehkita.com</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/acehsingkil.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/acehsingkil.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acehsingkil.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acehsingkil.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acehsingkil.wordpress.com&amp;blog=1393399&amp;post=22&amp;subd=acehsingkil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acehsingkil.wordpress.com/2007/08/10/penyu-langka-yang-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">acehsingkil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://acehsingkil.files.wordpress.com/2007/08/penyu-sedih.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">penyu hijau yang bersedih</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
