Adat Perkawinan; Merisik

Posted on Updated on

Aceh Singkil mempunyai kebudayaan yang unik dan heterogen. Kebudayaan yang mempunyai nilai yang sangat tinggi terdapat dalam beberapa contoh adat istiadat, misalnya saja dalam hal perkawianan. 

Pranata perkawinan di wilayah aceh singkil dimulai dari acara merisik ke dalam keluarga seorang gadis. Merisik adalah mendapatkan informasi, apakah gadis yang ada dalam keluarga yang didatangi oleh utusan keluarga seorang jejaka sudah ada yang melamar. Penuturan sewaktu merisik dilakukan dengan sopan dan sangat santun. Merisik ini dilakukan oleh seseorang yang dipandang berwibawa dan mempunyai hubungan baik dengan keluarga gadis yang akan dilamar oleh keluarga jejaka…

Sumber: www.acehsingkilkab.go.id

22 thoughts on “Adat Perkawinan; Merisik

    dina lampung said:
    21/05/2008 pukul 18:57

    🙂

    baitu tu yo…..

    thanks info nyo….

    Suka

    ali hasmi said:
    24/05/2008 pukul 00:55

    walau kito jauh di rantau jangan lupo samo b udayo urang singki….. ulang kita bage kacang lupa kuling na… slamat buat putra as yg ada di perantauan mari sharing ilmu demi kemajuan KAMPONG TA….

    Suka

    ali hasmi said:
    24/05/2008 pukul 01:01

    mari bersatu demi kemajuan daerah kito… agar lebih dikenal oleh ^urang* luar ,,,, hasmirimo@yahoo.co.id

    Suka

    afta said:
    24/08/2008 pukul 14:13

    content web cukup baik, tetapi kelihatannya masih kekurangan literatur baik tentang sejarah, budaya dan lingkungan-geografis, terutama belum ada artikel atau literatur tentang aceh singkil menurut perspektif orang luar atau asing.

    Reply from acehsingkil :

    Salam kenal buat afta,
    terima kasih atas sarannya yang membangun,insyaAllah kekurangan dalam web ini akan segera dilengkapi seiring dgn waktu dan proses membangun site ini..
    terima kasih ya afta..🙂

    Suka

    ram said:
    06/01/2009 pukul 15:12

    oke tapi maunya atau sebaiknya buat dengan secara sistematis dari awal sampai akhir artinya disini awal pertama kita merisik sampai dibuatnya acara pernikahan itu menurut saya

    Suka

    U_ning @LiD said:
    06/03/2009 pukul 01:57

    Btw,yg punya blog ini udah merisik ato blm?
    Kpn neh merisik ny?
    Siapo yg dirisik?🙂

    Reply from acehsingkil:
    🙂
    Siapo yo yg mau dirisik??

    Suka

    U_ning @LiD said:
    25/03/2009 pukul 23:17

    Ba apo klo ambo sajo yg dirisik?? :p

    reply from acehsingkil:
    🙂

    Suka

    april said:
    31/03/2009 pukul 10:53

    membuat sejarah itu harus benar2 yg ada dl budaya dn istiadat d daerah puau banyak, oc
    thenks……salam knal……

    reply from acehsingkil:

    salam kenal jg dari acehsingkil🙂
    terima kasih atas dukungannya . . .

    Suka

    april said:
    31/03/2009 pukul 10:58

    oi heldi baapo klo kito risik pk mas ajo samo jando rafli……?

    Suka

    jasman said:
    23/07/2009 pukul 20:47

    salam kenal daaa……………….
    ambo anak asli kuala baru…….
    kini ambo kuliah di pekanbaru….
    agi mala BS tu agak saketek..
    maha da biaya kehidupan kek kami disiko..
    tolong anggota2 dewan yang terhormat..
    mejuah juah…

    Suka

    jasman said:
    23/07/2009 pukul 20:49

    no hp ambo…
    081371098590….
    jgn lupo bantuan tu da…
    wss…………….

    Suka

    ramli said:
    23/10/2009 pukul 15:46

    oke…………….mantap tapi klu dapek masalah adt istiadt dalm acara perkawinan itu di gamblang kan atau jangn satangh2……………mungkin itu sajo sekian dan trimokasihhhh..

    Suka

    adex nagan said:
    08/11/2009 pukul 02:26

    sukses untuk orang ni,,,,,,,,,,,,

    Suka

    juari said:
    05/12/2009 pukul 14:54

    jangan lah sampai adat kito hilang ditelan jaman

    Suka

    pernikahan adat said:
    10/01/2010 pukul 02:39

    Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih🙂

    Suka

    sherlia said:
    19/01/2010 pukul 14:19

    kok dapek bia lengkap saketek yo dusanak e…………….

    Suka

    maya said:
    16/02/2011 pukul 09:13

    mohon info lebih banyak tentang singkil seperti, peninggalan2 sejarah singkil tempat2nya dmana aja. dalam waktu dkt kami akan melakukan observasi ke singkil.infonya daat dikirim ke email saya
    thks

    acehsingkil reply:

    Terimakasih atas kunjungannya..🙂
    Salam dari kami juga telah dikirim melalui e-mail.

    Suka

    nurmila said:
    07/04/2011 pukul 15:13

    rasanya sedikit sekali ya informasi tentang kebudayaan dan adat istiadat singkil.
    saya kebetulan ingin mencatat warisan budaya tak benda singkil yang masih ada dan yang hampir punah pada kategori arsitektur, kearifan lokal, kerajinan tradisional, kuliner dan teknologi tradisional ato yang lainnya…
    jika teman2 memiliki informasi nya,. harap kirim ke email saya di milakhaira@gmail.com
    mohon bantuannya yaaaa…..

    acehsingkil reply:

    Terimakasih kunjungannya,.
    Semoga kawan-kawan yang membaca komentar ini dapat membantu,amin…

    Suka

    ernawati said:
    04/01/2012 pukul 14:01

    agak na jlas ngo rhatana mulai dari merisik sampai wak sikhangna, tolong masuken mengenai mehelang di kampong ta…? khusus na kec,singkil mulai dari tanjulu nai soh metanjehena.

    Suka

    SARI said:
    18/03/2012 pukul 20:22

    Kalau mnrt saya ,,,peninggalan benda-benda yg brsjrah tu sehrsnya fto’a dtampilkan biar lbih mnarik…terus sastra atau legenda daerah sgkil juga lau ad di sebutkan agar cerita rakyat zmn dahulu dik mpe skrang…sperti di daerah gayo yg terkenal dgan sastra daerh mreka…

    Reply from acehsingkil:

    Salam kenal🙂
    Terimakasih atas kunjungan dan sarannya.

    Suka

    trisla said:
    17/07/2012 pukul 12:31

    A. Adat Perkawinan Subulussalam
    Dalam masyarakat subulussalam terdapat 3 corak perkawinan, yaitu perkawinan biasa, perkawinan angga dan perkawinan melalaken.
    Perkawinan biasa, adalah perkawinan yang dilaksanakan dengan upraca adat, baik adat penuh maupun secara sederhana saja.
    Perkawinan angga, atau disebut juga perkawinan panjek ialah perkawinan yang tidak disetujui, terutama oleh orang tua gadis atau karena si gadis telah ditunangkan dengan orang lain. Perkawinan ini membutuhkan kenekatan dari seorang pemuda, yaitu dia datang ke rumah orang tua gadis untuk menyerahkan diri sambil membawa sebilah pisau dan gunting serta kain kapan untuk diri sendiri. Dia siap dibunuh oleh orang tuanya jika tidak mau dinikahkan dia rela mati demi cintanya. Biasanya kawin angga disetujui karena terpaksa dan si pemuda harus membayar mahar yang lebih tinggi.
    Perkawinan melalakan, yaitu semacam kawin lari. Biasanya kedua remaja itu lasung menghadap kepala KUA dan siap dinikahkan. Biasanya perkawinaan ini terjadi karena si gadis telah hamil (kecelakaan), yang setelah diteliti mereka harus dinikahkan.
    Perkawinan angga dan perkawinan melalakan tidak dipestakan menurut adat. Hubungan kedua remaja dengan sanak keluarganya menjadi renggang yang cukup lama, dan baru baik kembali apabila meraka telah mempunyai anak.
    Adapun kegiatan adat perkawinan dalam masyarakat subulussalam adalah sebagai berikut.
    a. Merisik dan naik sirih (meminang)
    Terjalinnya perjodohan antara seorang pemuda dengan seorang wanita di daerah ini adalah melalui perkenalan langsung atau melalui perkenalan orang tua langsung atau melalui pilihan orang tua massing-masing. setelah beberapa lama dilakukan pendekatan (merisik) melalui sanak family atau saudara dekat lainnya terutama dalam hubungan antara kedua belah pihak orang tua, maka orang tua si pemuda menunjuk seorang lelaki yang dipandang terhormat dan mempunyai pengalaman sebagai penghubung, yang disebut seulangkai.
    Seulangkei melaksanakan tugasnya sebagai penghubung antara keluarga dua belah pihak guna membicarakan tentang persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh keluarga pihak si pemuda. Ia menjumpai orang tua si gadis dengan membawa sirih adat, dan bertindak selaku orang tua si pemuda ketika menyatakan maksud untuk meminang gadis di rumah itu. Ia juga menanyakan menanyakan tentang besarnya mahar dan persyaratan lainnya seperti uang hangus dan tatalaksana upara perkawinan itu nanti. Namun pihak orang tua dipihak gadis tidak segera menjawab tentang apa yang dikehendaki seulangke, tatapi biasanya mereka meminta waktu dua atau tiga hari untuk mendapat kesempatan bermusyawarah dengan nenek mamak dan sanak family mereka.
    Pada waktu yang telah dijanjikan seulangke kembali lagi ke rumah orang tua si gadis dengan menyerahkan sirih adat untuk kedua kalinya. Ia menanyakan kembali tentang apa yang ditanyakan tempo hari untuk memperoleh kepastian. Orang tua si gadis member jawaban melalui juru bicaranya (yaitu kepala desa) terhadap pertanyaan-pertanyaan seulangkei misalnya bahwa pinangannya diterima besarnya mahar yang harus diberikan, waktu peminangan dan waktu perkawinan. Selanjutnya hasil pertemuan tersebut dilaporkan oleh seulangkei kepada pihak orang tua si pemuda. Selanjutnaya pada hari yang telah ditentukan, maka diadakanlah acara naik sirih (peminangan). Seulangkei bersama kepala desa, petua adat dan kerabat terdekat dating ke rumah orang tua si gadis dengan membawa sirih adat yang tersusun rapi dilengkapi dengan mayang pinang yang dibungkus dengan kain sutra yang berlapis untuk tujuan meminang si gadis secara resmi. Sesampai dii rumah yang dituju, kepala desa menyerahkan sirih adat kepada kepala desa setempat dengan tata cara yang sopan dan penuh kiasan-kiasan.
    Setelah menyerahkan sirih maka dimulailah acara peminangan oleh juru bicara yang disebut janang dengan mengungkapkan kembali apa yang telah diketahui ketika acara merisik dan mengharapkan agar gadis yang dimaksud dapat dipersuntingkan oleh si pemuda. Setelah dinyatakan persetujuan maka pada wak tu itu juga dibicarakan tentang uang hangus, mahar, waktu perkawinan dan lain-lain. Pertemuan tersebut diakhiri dengan doa selamat.
    b. Antar tanda
    Bila mana pernikahan di selenggarakan dalam tempo setahun atau lebih setelah acara meminang, maka hubungan antara pemuda dan pemudi itu diperkuat dengan cincin tunangan yang di berikan oleh si pemuda. Untuk itu di lakukan dalam suatu acara adat yang di sebut antar tanda yang di selenggarakan di hadapan para kepala adat, nenek mamak dan sanak family.
    c. Mufakat Nagari
    Beberapa lama sebelum waktu pernikahan, maka pihak keluarga si gadis mengadakan mufakat nagari atau musyawarah kampung yang di hadiri oleh nenek mamak, sanak family dan orang- orang patut dalam kampung. Mengundang orang- orang kampung itu di lakukan dengan membawa cerana sirih ke setiap rumah orang yang di undang. Oleh pihak keluarga, melalui janang, di serahkan tugas menyelenggarakanpestaperkawinan anaknyakepada warga desa kepada warga desa di bawah pmpinan kepala desa sebagai ketua adat.
    d. Menggantung Tirai
    Diantara kegitan mempersiapkan acara perkawinan adalah kegiatan gantung tirai rumah pengantin perempuan oleh istri kepala desa. Termasuk dalam acara ini ialah membuat tempat pelaminan tempat pelaminan, tempat tidur, dan lain- lain. Tempat pelaminan berbentuk pintu gadung tiang- tiang galah pintu gadung itu dibalut dengan kain warna kuning untuk keturunan raja,warna hijau untuk keturunan ulama dan warna merah untuk rakyat biasa. Selain itu untuk hiasan di kamar pengantin di pakai juga sempangan yaitu 9 batang bamboo yang disusun berlapis- berlapis dan di balut selendang yang berwarna- warni. Bila sempangan itu hanya memakai 8 buah galah, maka itu menandakan bahwa perkawinan itu di lakukan dalam bentuk lebih sederhana, yaitu hanya memotong kambing, sedangan gkan kalau memakai galah 9 buah galah menunjukan pesta besar, dan yang di potong untuk khanduri adalah kerbau atau lembu. Sebagai petanda lain untuk mengetahui apakah pesta perkawinan itu besar atau kecil. Adalah pada poni di kening pengantin wanita sewaktu duduk bersanding di pelaminan. Kalau poninya berbentuk segi empat dan sampai ke alis mata, artinya pesta kecil atau sederhana saja.
    e. Malam berinai
    Malam berinai adalah malam di mana jari, telapak tangan dan kaki pengantin wanita di balur dengan inai (pacar) yang berwarna merah. Suasana malam berinai itu biasanya riang gembira, karena di antara wanita yang mengenakan inai ada yang pandai membuat humor (berlawak), dan di pertunjukan pula kesenian diki (zikir) yang menggunakan rebana dan kata- katanya mengisahkan kelahiran rasul.
    Peserta kesenian diki itu duduk di atas tilam khusus dan membaca buku Barjanzi dengan membunyikan gendering. Kegiatan itu berlangsung sampai larut malam, dan kepada mereka disajikan minuman dan makan ringan seperti kue- kue. Malam berinai biasanya selama 3 malam berturut- turut.
    f. Mendudukan (peusijuek)
    Mendudukan ialah melaksanakan peusijuek khusus kepada pengantin baru (yang memakai pakaian haji) oleh ibu, nenek mamak serta sanak keluarganya. Dalam acara mendudukan ini, selain di peusijuek, juga di berikan makanan lunak seperti bubur, sarikaya, dan lain- lain, oleh para tetamu yang dating berkunjung ke upacara tersebut.
    g. Akad nikah
    Sudah menjadi ketentuan adat bahwa upacara akad nikah di daerah subululusalam pesisir di laksanakan di mesjid. Sebelum si pemuda (mempelai) di antar untuk menikah, dia harus menyembah kedua orang tuanya untuk memohon izin dan keberkatan bagi kehidupan rumah tangganya kelak. Setibanya di mesjid, rombongan mempelai telah dinantikan oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan hadirin lainnya. Mempelai di dudukan di atas tilam khusus, yang di kiri dan kanannya di letakan bantal bersulam benang emas. Pimpinan rombongan menyampaikan sepatah kata mengenai maksud kedatangan merekake mesjid itu. Oleh kepala desa pihak dara baru, di sambut dengan gembira kemudian menyerahkan penyelenggarakan akad nikah kepada Kepala KUA.
    Setelah meneliti jumlah mahar oleh Kepala KUA, di laksanakanlah akad nikah (ijab qabul) di hadapan 2 orang saksi serta hadirin yang ada. Sirih adat yang di bawa oleh pihak dara baro di antarkan kerumah linto sebagai tanda di terima linto baro. Setibanya di rumah linto, semua rombongan juga di berikan makan.
    Telah menjadi tradisi pula bahwa pada sore hari sebelum di antar ke rumah dara baro, si linto di arak keliling desadengan iringan kasidah barjanzi dan rebana, lalu kembali ke rumahnya untuk menyaksikan tari Rondai dan tari dampeng.

    h. Antek mempelai
    Pada malam harinya setelah sholat isya, linto di antar beramai- ramai ke rumah dara baroyang di sebut antek mempelai. Linto dengan di dampingi oleh kaum perempuan dan laki- laki biasanya berjalan kaki ke rumah dara baro sambil membaca shalawat Nabi. Sesampai di halaman rumah pengantin, mereka di sambut dengan permainan tarian geulombang atau silat. Di pintu pekarangan, linto di songsong oleh permpuan adat dengan membawa cerana sirih. Setelah bersalaman dengan rombongan semua. Maka mereka di persilahkan memasuki halaman rumah.
    Di halaman rumah, sebelum menaiki tangga, linto di peusijuek dengan beras kuning serta di berikan nasehat dengan kata- kata gembira dan lucu. Setelah itu linto menaiki tangga rumah dan menempati ruangan yang telah di tentukan untuk duduk bersanding di tempat pelaminan, sedangkan rombongan memilih tempat duduk masing- masing. Sebelum duduk bersanding di pelaminan, linto di salami oleh dara baro, kemudian makan bersama sambil berganti suap. Kedua pengantin juga di kipasi oleh dua orang putrid (gadis cilik) yang berpakaian adat pengantin.
    Adapun mengenai hidangan makanan pada acara khanduri antek mempelai itu secara adat telah di tentukan sebagai berikut: Untuk kepala desa di hidangan ( dalam talam ) gulai kepala kambing ( otak ), untuk imam meunasah gulai dagu kambing dan gulai ayam, sedangkan untuk rombongan lainnya sebagaimana biasa.
    i. Giling surut ( tueng dara baro )
    Setelah beberapa hari perkawinan berlangsung, maka dara baro diantar untuk mengunjungi rumah orang tua si lelaki yang di sebut giling surut. Para pengantar mereka terdiri dari kaum wanita saja. Pada kesempatan itu kepada si dara baro di berikan pakaian selengkapnya.

    Daftar Pustaka
    Darwis Sulaiman Kompilasi Adat Aceh, Banda Aceh: Penerbit Pusat Studi Melayu Aceh, 2011

    Reply from acehsingkil:

    Terimakasih atas referensi tambahannya.🙂

    Suka

    ramidah said:
    15/11/2014 pukul 12:26

    saya sedang meneliti tentang pesta adat pernikahan aceh singkil tentang menjatoh atau temetok tlong searching ke imail saya ramidah.ajha@yahoo.com
    tlong bantuan saudara tentang adat pernikahan ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s